Maaf, ikhlas, syukur

Adalah 3 kata yang bagiku mudah diucapkan tapi begitu sulit untuk dilakukan. Beruntunglah orang-orang yang bisa melakukannya.

Menyikapi Kepergian

Tadi, waktu saya lagi nonton berita jatuhnya pesawat Germanwings bareng si Mama,

Mama : Perhatiin deh bedanya pendapat orang Indonesia sama bule pas orang terdekatnya (keluarga atau teman) meninggal dunia

Dinda : Kenapa Ma?

Mama : Orang bule pas ngasi pendapat di media, pasti yang mereka omongin itu tentang hal-hal baik dan menyenangkan almarhum. Misalnya dia cantik, dia baik, atau kenangan-kenangan manis bareng almarhum. Tapi kalo di Indonesia, yang sering kita denger itu kata-kata “dia itu tulang punggung keluarga, bla bla bla”. Seolah-olah yang ditangisi dari kepergian itu lebih ke kesedihan karena nggak ada lagi yang membiayai hidup orang itu, daripada menangisi orang tercinta yang pergi.

Dinda : Hmmm

Bener juga sih, saya juga sering denger begitu. Tapi apa sebenernya memang begitu? Apa bener orang kita lebih sedih karena kehilangan tempat bertumpu? Atau sebenernya itu cuma bisa-bisaan media yang sengaja mengangkat “tulang punggung keluarga” biar lebih dramatis dan menjual? Kalo topik itu laris, berarti bener dong, pada dasarnya kita akan lebih sedih ketika kehilangan tempat bertumpu daripada sedih karena nggak akan bisa melihat keceriaan orang yang disayang lagi?

Terlepas dari sedih karena apa, jujur saya pengen banget ketika waktu itu datang, orang -orang akan menangisi kepergian itu, kemudian merayakan (yap merayakan, bukan meratapi) kehidupan saya, mensyukuri pernah kenal dengan seorang Dinda dan terakhir, memasukkan nama saya di setiap doa mereka. Amin.

Haha aduh maaf ya random ;p

Hei Kamu!

Aku yakin kamu pasti nggak inget hari ini, tanggal ini. Dan ketika kamu membaca tulisan ini, reaksi kamu bakal “eh iya ya? Hari ini ya? Aku lupa hehehe”. Sangat kamu.  Aku sangat paham. Tapi nggak apa-apa, karena memang hampir nggak pernah kita mengingatnya. Ini cuma jadi pertanda, bahwa 5 tahun yang lalu, di hari ini, alam memulai konspirasinya untuk mendekatkan dua orang yang tak terlalu kenal sebelumnya. Ada kalanya dipertemukan, ada juga dipisahkan. Aku nggak tahu apakah alam bawah sadar kita saling memanggil satu sama lain, sehingga membuat seolah-olah jalan hidup kita selalu berdekatan.

Dulu kita pernah merasakan bahwa kita ada lah magnet untuk satu sama lain. Tapi kemudian muncul pandangan bahwa kutub kita sama, sehingga gaya yang dihasilkan tolak-menolak. Kitapun mengubah diri kita menjadi kata yang sulit dipahami orang lain: teman. Aku dan kamu adalah teman kerja. Masih ingat rasanya deadine ngerjain orderan? Rasanya karya diapresiasi orang? Dibeli orang?. Atau paling sederhana: senangnya ngobrol dan karaokean setelah seharian pameran di Kuala Lumpur?. Aku dan kamupun sukses memainkan peran sebagai teman yang sesungguhnya.  Saling mendukung walaupun nggak selalu terlihat menjaga. Sampai akhirnya ketika aku dan kamu berpikir alam mulai saling menjauhkan, menyuruh kembali hidup masing-masing. Lalu ya, aku dan kamu hidup masing-masing. Tapi rupanya konspirasi ini belum juga selesai. Dua orang yang telah terpisah 6000 mil, kembali didekatkan. Aku dan kamu kembali menjadi 0 mil, secara raga dan perasaan.

Karena aku terdikte dengan atasanku yang sukanya baca one piece, aku jadi percaya di dunia ini tidak ada yang namanya kepentingan bersama, yang ada hanyalah irisan kepentingan. Dan itulah yang membuat aku dan kamu kini kembali menjadi kita. Setelah fase 0 mil, kamu yang selalu mencari yang lebih, dan aku yang sudah pernah beramit-amit nggak mau sama kamu, akhirnya sama-sama menghancurkan dinding ego masing-masing, menyadari bahwa kita saling membutuhkan untuk mencapai misi hidup aku dan kamu. Aku yakin kita bukan Romeo-Juliet, Peter Parker-Mary Jane, Widyawati -Sophan Sophian apalagi Raffi-Nagita. Da kita mah apa atuh, cuma sepasang sendok dan garpu. Nggak sama, nggak indah tapi saling melengkapi biar fungsinya sempurna.

Semoga di hari-hari lain, saat jarak 0 mil atau malah berjuta-juta tahun cahaya, akan selalu ada rasa yang tertanam di tempat yang secara pengetahuan posisinya ada di perut tapi kita selalu mentafsirkannnya di area jantung: hati. Bukan rasa yang menggebu-gebu. Bukan pula kupu-kupu yang hinggap di perut ketika mengobrol atau perasaan deg-degan seperti saat kencan pertama. Cukup rasa yang ikhlas untuk saling mendoakan, seperti dalam kata “have a nice day” atau “buon lavoro” yang biasa kita ucapkan setiap pagi. Kata penuh doa dengan selipan rasa syukur dan pemaafan di dalamnya. Tetaplah menyibukkan diri di sana, tetaplah memantaskan diri. Sampai berjumpa di atap gedung yang tinggi, tempat kita akan menceritakan hari-hari kita, ditemani kopi, bintang dan doa yang tetap terjaga.

Sampai tanggal 20 Desember berikutnya, N!

Dear Kakak Dhafi

Dear Kakak Dhafi,

Keponakan Manda ini sekarang sudah mau jadi remaja. Manda masih inget dulu Manda pengen banget punya adek, tapi udah nggak mungkin. Lalu Kakak lahir sebagai keponakan Manda.

Seiring berjalannya waktu, badan Kakak tumbuh tinggi dan pikiran Kakak berkembang dewasa. Manda baru sadar, batas antara tante-keponakan rasanya semakin samar dan kita lebih sering disangka kakak-adek. Sekarang Manda beneran punya adek deh.

Sebagai seorang tante atau kakak atau teman, pastinya Manda pengen Kakak jadi orang yang baik. Karena itu, izinkanlah Manda membagi ini ke Kakak, pelajaran-pelajaran hidup yang Manda dapetin sampe Manda berumur 24 tahun saat ini.

Belajar yang rajin ya, Kak. Belajarlah dari manapun dan di manapun, bukan cuma dari sekolah. Apa yang diajarkan di kelas itu bahkan nggak nyampe dari 5% ilmu yang ada di dalam hidup. Belajarlah dari apa yang ada di sekitar Kakak. Bukan cuma buku dan internet, tapi juga dari alam dan orang-orang di sekitar.

Niatkan diri Kakak untuk mencari ilmu, bukan mencari nilai-nilai yang terukur.

Tuntutlah ilmu sampai ke belahan bumi terjauh, dari dasar lautan sampai setinggi langit, supaya Kakak bisa belajar dari sudut pandang lain; sudut pandang yang nggak pernah Kakak ketahui sebelumnya.

Jangan mau cuma diam di 1 tempat. Pergilah sejauh Kakak mampu. Pergilah ke tempat yang baru, mencoba makanan yang baru, berbicaralah dengan bahasa yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan mempelajari budaya baru. Jadilah orang yang berpikiran terbuka dan tak takut mencoba hal-hal baru. Karena dari sanalah, Kakak bisa mendapatkan ilmu.

Dan kalau Kakak berilmu, jangan lupa untuk membaginya dengan orang lain.

Hidup itu untuk berbagi Kak. Kalau Kakak nggak punya harta, bagilah ilmu Kakak. Kalau Kakak nggak punya ilmu, bagilah senyum dan kasih sayang Kakak, bahkan pada orang yang nggak dikenal. Jadilah orang yang penyayang…

Di usia remaja ini, Kakak bakal ngerasain apa itu jatuh cinta. Itu normal kok, Kak! Kakak bakal mulai tertarik dengan lawan jenis. Tertariklah dengan sewajarnya. Nikmati masa-masa itu. Kakak juga bakal ngerasain patah hati. Dan saat itu terjadi, jangan sampe itu mengganggu hidup Kakak.

Karena cinta itu bukan cuma untuk lawan jenis. Cintailah keluarga yang selalu ada untuk Kakak, sahabat-sahabat yang setia, alam yang selalu menakjubkan dan pembelajaran yang tanpa disadari selalu kita dapatkan setiap detiknya. Jatuh cintalah sesering-seringnya. Tapi jangan lupa, di atas semua cinta itu, jatuh cintalah pada Yang Maha Mencintai, Pencipta Yang Luar Biasa.

Semoga Kakak menjadi wanita pintar dan tangguh. Bukan pintar karena selalu juara ini itu, tapi mampu untuk menyeimbangkan hidup. Bukan tangguh karena fisiknya, tapi karena tekadnya yang kuat dan nggak mudah menyerah. 

Selamat menjadi remaja, selamat beranjak dewasa. Walaupun kita jarang banget ketemu, ingatlah, doa Manda untuk Kakak.

Love,

Manda

10 Hal yang Penting Dibawa Ketika Studi ke Luar Negeri

Musim gugur atau musim semi biasanya jadi pertanda perginya mahasiswa baru di berbagai belahan negara, termasuk anak-anak dari Indonesia. Seperti saya tahun yang lalu yang sejak sebulan sebelum keberangkatan sibuk nyiapin apa yang harus dibawa. Waktu itu saya bawa semua barang dari penting sampe nggak penting, dari yang gede sampe yang kecil, dari baju sampe makanan. Saya bahkan sketchbook, haha. Setelah tinggal di sini, saya baru sadar, nggak semua barang harus saya bawa, karena kebanyakan bisa dibeli di sini (Milan). Lalu saya mulai menyimpulkan, sebenernya apa aja sih yang penting untuk dibawa ketika kita pindah untuk study abroad:

 

1.Bumbu Instan

Sewaktu di Indonesia dulu, saya sering mikir, ini siapa ya yang beli bumbu-bumbu instan, kok kayanya si Mama dan ibu-ibu lainnya jarang banget pake bumbu instan. Ternyata bumbu ini sakti sekali saudara-saudara! Dengan bumbu ini, masak nasi goreng, sambel goreng, opor ayam bahkan rendang jadi terasa mudah! Tinggal tumis dan cemplung bahan, langsung jadi deh! Bumbu instan yang enak itu biasanya merk Indofood atau Bamboe. Bentuknya plastik sachet, jadi mudah diselipin di koper.

 

2. Indomie

Tujuan bawa indomie bukan buat stok persediaan, melainkan buat cadangan makanan di hari-hari pertama datang ke negara lain. Karena biasanya di hari pertama ini orang-orang belum tau di mana restoran atau supermarket. Jadi cukup bawa 3-4 bungkus aja. Selebihnya, indomie cukup mudah didapetin di international market, ya walaupun rasanya nggak senendang di Inonesia karena sudah disesuaikan dengan standar Eropa.

 

3. Sendok garpu gelas dan piring

Sama seperti indomie, peralatan makan di atas tentu aja dipake buat hari-hari pertama, jaga-jaga di apartment atau dorm belum ada peralatan makan. Biar nggak berat, bawa yang plastik atau melamin aja.

 

4. Makanan “Harta Karun”

Didefinisikan sebagai makan yang bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama, dan bisa dimakan sebagai obat kangen ataupun saat darurat (baca: nggak punya makanan atau nggak punya duit). Contohnya bisa kering kentang, kering tempe, abon dan dendeng. Tapi hati-hati, di beberapa negara ada yang melarang pendatang membawa beberapa jenis makanan yang dianggap berbahaya. Jadi pastiin negara yang kamu tuju, memperbolehkan membawa makanan tersebut daripada sekilo kering tempe melayang sudah.

 

5. Rice Cooker

Ini penting terutama bagi yang tipikal anak “makanan lokal” banget. Saya dulu nyesel nggak bawa rice cooker. Percayalah, bawa rice cooker itu jauh lebih praktis dibanding masak nasi pake panci setiap kali masak, yang kalo nggak pinter (kaya saya) bisa berakhir dengan gosong dan kerak di nasi bagian bawah.

 

6. Sambel Botol

Bagi yang demen makan pedes, sambel botol pasti jadi barang yang wajib dibawa, karena nyarinya lumayan susah (apalagi di Milan). Kalo mau lebih praktis, bisa juga bawa yang sachet.

 

7. Tolak Angin

Tolak angin ampuh banget buat ngatasin masuk angin terutama pas autumn, winter atau abis begadang. Sejauh ini saya belum pernah nemu  tolak angin dijual di sini (mungkin juga karena saya nggak jeli melototin asian market kali yaa)

 

8. Minyak telon, minyak angin, minyak kayu putih, minyak tawon dan balsem

Nyari tolak angin aja susah, apalagi minyak telon cap Nyonya Meneer?

 

9. Peniti

Sepele sih, tapi percayalah ini berguna.

 

10. Cinderamata

Kalo kamu berencana nggak bakal pulang ke Indonesia sebelum lulus, ada baiknya bawa cinderamata yang kecil tapi khas Indonesia. Tujuannya untuk ngasih temen, kolega, dosen atau bahkan kenalan couchsurfing pas kamu lagi travelling. Secara nggak langsung kita memperkenalkan budaya kita ke bangsa lain.

 

Kenapa list nya sebagian besar adalah makanan? Ya jelas karena makanan yang paling susah dicari, apalagi khas Indonesia. Kalo baju, sepatu dan gadget sih masih bisa dicari di mana-mana secara banyak negara yang lebih maju daripada Indonesia. Tapi, semaju-majunya suatu negara, belum tentu mereka menjual sambel extra pedas ABC, kan?

Times of Your Life

This cold and gloomy morning, I was inadvertently opening facebook of an old friend that I respect the most, even if now we don’t talk that much. I read his note and found a great lyric of Paul Anka’s song.  You know what I got? I commented him on that time with the stress on “The memories are time that you borrow, to spend when you get to tomorrow”. To be honest I don’t remember the song, so I was trying to search on youtube, play on several cover version, one of them is by Joanna Wang. Holy crab, it’s a song that someone has ever listened to me. He told me that this song has very special meaning (and it was surprising, since he’s not kind of person that has preference on music).

And my deepest mind said, is this another universe conspiracy? An answer for a weirdo like me which always thinking too much and keep questioning my life, through these special people that I always think about.

28 Hari Menuju Final Presentation dan 22 Hari Menuju Submission

Adalah ketika orang nanya “how is it going?” itu artinya sama aja kaya “kerjain thesis lo, nyet!

Ketika orang nanya “what are you going to do after this?” berarti “cepetan cari kerja, jangan nyusahin orang tua terus

Ketika senang-senang ada di urutan terakhir prioritas tapi urutan pertama di wishlist

Ketika di jidat ada tulisan “senggol-bacok” dan semua terasa sangat sensitif dan drama

Ketika tiap pagi pengen cepet-cepet ke kampus buat ngerjain, dan malem pengen cepet pulang buat ngelanjutin

Ketika mulai nggak pede sama apa yang dikerjain

Gue udah masuk ke dalam tahap itu…