Papa

14 Agu

Pagi tadi saya dikejutkan dengan telpon dari si kakak yang ngabarin: Papa kritis. Sosok seorang Uack, pakde, paman atau kakak Daddy yang sejak saya lahir udah saya panggil Papa. Sama kaya anak-anaknya memanggil Papanya. Belum selesai kaget saya, ga berapa lama kemudian, kakak saya yang cowok ngabarin: Papa meninggal.

Saya ga bisa ngomong apa-apa saat itu. Cuma kebayang sosok Papa pas terakhir saya ketemu beliau lebaran tahun lalu. Baru aja beberapa minggu lalu saya nulis di twitter, saya kangen Papa. Sosok Papa dan Mama Palembang (yang udah lebih duluan meninggal) memang penting bagi saya. Mereka bukan sekedar kakak dari Daddy. lebih dari itu, mereka adalah orang tua kedua bagi saya. Betapa saya menghormati dan menyayangi Papa.

Papa adalah salah satu kakak yang dituakan di keluarga Daddy. Daddy yang merupakan anak bungsu di keluarga, sejak SD udah tinggal di rumah Papa, tumbuh dan besar di sana. Karena itu, Daddy dan Papa deket banget. Itu kebawa sampe Daddy nikah sama Mama dan punya tiga anak. Saking deketnya, saya dan kakak-kakak iktu memanggil “Papa dan Mama Palembang” pada mereka berdua.

He’s special from the day I was born” itu yang Kakak saya bilang. Itu juga yang saya rasain. Secara langsung dan ga langsung, saya tumbuh dengan andil Papa. Papa orang yang pendiam, disegani tapi murah senyum. Papa sayang sama anak kecil. Inget banget dulu, kalo saya ke Palembang dan ke rumah Papa, di saat orang tua saya ngobrol-ngobrol, Papa sering mengajak saya, valdi dan Aldo ke Gramedia, karena Papa tau kami suka baca buku. Pulang dari Gramedia, kami makan dan pulang pas udah malem.

Dukungan Papa terus ada sampe saya dewasa. Papa sangat mendukung waktu saya mau masuk ITB. Maklum, Papa dulu alumni Teknik Sipil ITB. Waktu saya ikutan USM ITB di Palembang,Papa yang nganter jemput saya. Sewaktu ada insiden kecil evakuasi karena pesawat Palembang-Bengkulu yang saya tumpangi mengalami mati mesin pas udah lepas landas, Papa yang udah pulang ke rumah, balik lagi ke bandara dan nungguin saya. Semuanya tanpa banyak bicara, cuma lewat telpon dan sms “Papa nungguin di bawah ya”

Sekarang Papa udah pergi. Berarti saya harus mengubur keinginan saya: pengen Papa jadi saksi saat saya nikah. Aneh sih, mungkin saya mikir terlalu jauh. Tapi saya memang pengen itu dari dulu, karena saya pengen Papa jadi saksi hari penting saya, kaya selama ini dia jadi saksi saya lahir, tumbuh dan berubah menjadi dewasa. Ga apa-apa, saya yakin Papa bakal melihat itu dari tempatnya. Istirahatlah dengan tenang, Papa :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.